Minggu, 19 April 2009

Gunung Pulosari

Gunung Pulosari secara administratif masuk ke dalam desa Cilentung kecamatan Pulosari Kabupaten Pandeglang di Propinsi Banten. Statusnya dari hutan produksi menjadi hutan lindung ......? udah belum ya. Tahun, no sk

Secara geografis gunung pulosari memiliki ketinggian 1346 mdpl (4416 feet) dan berada pada koordinat 6°20′31″S 105°58′30″E / -6.342°S 105.975°E, stratovolcano merupakan status yang disandangnya tetapi untuk terakhirkalinya meletus tidak diketahui (belum nemu data valid).

Sisi lain dari objek pendakian gunung ini memiliki sumber energi panas bumi (geothermal) yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik di wilayah Banten "mudah-mudahan alternatif energi ini bisa segera kita manfaatkan"


Transportasi
kendaraan umum
  1. - Jakarta/Kali deres - p'3.an Mengger (bus) Rp. 15.000 - 17.000; bisa ditawar ko'/ 2 jam PO MURNI, PO ASLI, PO SADAR (Jurusan Jakarta - Labuan)
  2. - P'3.an Mengger - Pasar Pari (angkot) Rp. 4000; / 30 menit
  3. - Pasar Pari - Cilentung (ojek) Rp 5000; / 15 menit
kalo rombongan angkot dari mengger - cilentung bersedia mengantar tentunya dengan tarif hasil negosiasi sebelumnya.

kendaraaan pribadi
- jakarta - keluar gerbang tol serang timur - pandeglang - mengger - cilentung (kondisi jalan mulus dan luas

Kondisi Alam
Entry point dari rumah sekdes (-/+ 150 mdpl) dimulailah pendakian sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan persawahan, perkebunan, lokasi pembibitan yang dikelola oleh masyarakat sekitar. Kondisi jalan yang cukup landai memudahkan proses pendakian menuju Curug Putri, kisaraan waktu 30 - 60 menit dari awal pendakian pandangan kita akan tersita sejenak oleh keindahan air terjun dengan ketinggian -/+ 40 meter di lokasi ini kita dapat beristirahan sebelum melakukan pendakian kembali. Cadangan air guna bermalam dapat di persiapkan sebelum melanjutkan perjalanan.

Dari curug putri perjalanan dilanjutkan dengan kondisi jalan yang cukup terjal beberaapa menit kita dipaksa untuk menggunaakan tangan untuk membantu proses pendakian, pemandangan perkebunan rakyat masih kita jumpai. waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai kawah sekitar 60-90 menit, udara sejuk mulai kita rasakan disini. dilokasi ini kita bisa membuka tenda, di anjurkan pendirian tenda tidak terlalu dekat dengan kawah mengingat bau belerang yang cukup kuat dapat mengganggu pernafasan kita.

Jika Ingin langsung menuju puncak kita langsung disuguhi dua alternatif jalur menuju puncak :
  1. Jalur vertikal dari kawah ambil jalur lurus kemiringan jalur ini lebih dari 60° waktu tempuh sekitar 60 - 90 menit. Longsoran kecil kerap terjadi dijalur ini harus sedikit waspada untuk yang menggunakan jalur ini.
  2. Jalur horizontal dari kawah ambil jalur kanan persentase antara jalur landai dan menanjak sekitar 50 : 50 % dengan waktu tempuh 90 - 120 menit jalur ini relatif aman dibandingkan dengan jaalur vertikal. 15 menit sebelum puncak pas kita akan singgah di puncak bayangan dari sini kita bisa melihat gunung raja basa (lampung) dan selat sunda, tempat ini cocok sekali untuk melepas lelah. Perjalanan dilanjutkan tidak lama kita sudah sampai di puncak yang ditandai dengan tiang pemancar, kondisi yang landai dengan lebar -/+ 50 meter kita juga bisa mendirikan tenda disini. guna persiapan berkemah kitaa dapat memanfaatkan Sumber mata air bisa kita peroleh 50 meter dari puncak ke arah selatan (jalur saketi).

Kamis, 19 Maret 2009

Curug Cigumawang

Curug Cigumawang

Curug atau Air Terjun Cigumawang secara administratif terletak di desa Kadu Bereum kecamatan Padarincang Kabupaten Serang dan secara geografis terletak pada (Latitude 13; Longitude 11) dikelilingi oleh perkebunan penduduk, luas wilayah yang digunakan untuk wisata sekitar -/+ 2000 meter persegi objek yang dapat kita nikmati dilokasi tersebut selain air terjun juga bumi perkemahan. Pengelolaan yang masih belum terstruktur dikarenakan objek wisata ini masih milik perseorangan, keindahaan yang cukup memukau lambat laun akan hilang karena pengelolaan, perawatan dan pengawasan yang kurang optimal "amat disayangkan".

Lokasi sekitar curug selain sebagai objek wisata alam juga banyak dimanfaatkan guna aktivitas kealaman. Beberapa pecinta alam sering menggunaakan lokasi ini latihan seperti explore (panjat dan turun) tebing, outbound dll karena lokasi sangat representatif untuk melakukan aktivitas kealamaan.

Fasilitas yang tersedia dilokasi wisata lumayan memadai dengan harga tiket sekitar Rp 2500; (pengelola perseorangan). Mushallah, ruang ganti & toilet kita dapati disana dibangun dengan bahan kayu dan tembikar selain sarana umum kita juga dapat duduk santai di kios makanan, minuman instant selain itu juga buah seperti kelapa sering menghiasi kios dan pada musim durian lokasi ini cukup menarik karena lokaasinya yang berdekatan dengan kebun durian "bisa dapat murah durian kalo disini dibandingkan harga pasaran" taapi sayang itu tahun 2007an, sekarang pohon durian habis ditebas karena kurang produktif dalam menghasilkan buah faktor utamanya karena cuaca yang memasuki musim pancaroba.

Beberapa warga sekitar lokasi memanfaatkan halaman rumahnya sebagai lahan parkir pengunjung curug ya kisaran Rp 2000; kita membayar jasa penitipan motor, pada saat week end sekitar 50-100 motor berderet dilahan parkir tersebut. Meski belum signifikan dalam hal mendongkrak ekonomi kerakyataan paling tidak sudah bisa sedikit membantu dalam peningkatan penghasilan beberapa warga.

Akses Menuju Curug Cigumawang

Dengan kendaraan umum
1. Jakarta – Serang/Terminal Pakupatan (Bus jurusan Jakarta – Merak)
2. Serang – Kebon Jahe (Angkot Biru Langit/Rp 2000;/sekitar 15 menit)
3. Kebon Jahe – Pasar Padarincang (Angkot Hijau atau Kuning/Rp 7000;/1 jam)
4. Pasar Padarincang - Curug Cigumawang (Berjalan Kaki/30 menit)

Dengan kendaraan pribadi
Dari Jakarta keluar gerbang tol Serang Timur ambil arah kiri lalu putar balik kearah kota ambil arah cipocok / kebon jahe setelah itu pas perempatan (palima) ambil kanan arah pasar Padarincang (jarak tempuh dari kota Serang sekitar 1 jam).

Kondisi Alam

Dari pasar Padarincang menuju perbatasan pemukiman dan sawah nah disini batas akhir kita untuk menitipkan kendaraan setelah itu dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati petakan sawah, disisi kiri kita dapat menikmati aliran sungai yang dihiasi bebatuan dan disisi jalan setapak kita disuguhi pemandangan perbukitan kira-kira 10 menit langkah kaki kita terhenti sejenak karena kita harus mempersiapkan diri duna menyebrangi sungai yang terdapat bendungannya setelah menyeberang sungai kita lanjutkan lagi perjalanan langkah dijalan setapak dikelilingi perkebunan warga yang bisa kita nikmati 20 menit berlalu baru kita sampai di bumi perkemahan (buper) yang letaknya berdekatan dengan aliran sungai perjalanan kita lanjutkan 10 menit dari buper kita sampai dilokasi curug, perjalanan yang cukup menguras tenaga terbayarkan sudah keringat yang bercumbu dengan percikan air terjun subhanallah kata pertama yang terucap.

Rabu, 20 Agustus 2008

Pulau Dua ya Pulau Burung

Pulau Dua merupakan kawasan hutan dengan gugusan mangrove, karena alamnya sangat potensial maka didaulat sebagai cagar alam berdasarkan GB.No.21 Stbl.49, 30-7-1937. Untuk keperluan pengamanan Pemerintah Daerah Kabupaten Serang mengeluarkan Surat Keputusan tahun 1977 yang mendukung pengukuhan Pulau Dua sebagai kawasan Cagar Alam. Pada tahun 1978 luasnya sekitar 8 Hektar (Ha) dan jarak antara pulau jawa dan daratan pulau dipisahkan oleh selat yang panjangnya sekitar 500 meter. Namun lambat laut selat tersebut banyak tertimbun tanah yang terbentuk akibat proses pendangkalan sungai Cibanten, pada lokasi tersebut ditumbuhi oleh jenis tanaman Avicenia marina tempat para burung bersarang. Akhirnya pada tanggal 26 Desember 1984 Menteri Kehutanan pada saat itu Soejarwo (Kabinet Pembangunan IV) mengeluarkan Surat Keputusan Nomor : 253/KptsII/1984 berkenaan dengan perlindungan terhadap burung dan habitatnya serta perluasan lokasi yang pada awalnya hanya sekitar 8 Ha menjadi 30 Ha.


Secara administratif Cagar Alam Pulau Dua masuk kedalam desa sawahluhur, kecamatan Kasemen, kabupaten Serang, Propinsi Banten. Dengan koordinat geografis 106° 11' 38" - 106°13' 14 " Bujur Timur dan 6° 11' 5" - 6°12' 5 " Lintang Selatan. Dikelola oleh BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Kabupaten Serang. Tipe iklim kategori B dengan curah hujan rata-rata 250 mm/tahun dan suhu berkisan antara 26 - 32°C, kisaran ketinggian antara 1-3 meter diatas permukaan laut (mdpl).

Ekosistem dan vegetasi cagar alam ini termasuk hutan dataran rendah yang ditumbuhi beberapa jenis tanaman pantai antara lain seperti :
1. Kepuh (Sterculia foetida)
2. Ketapa
ng (Terminallia catappa)
3. Apiapi (Av
icenia sp)
4. Bakau (Rhizopora sp)


Untuk menuju lokasi tidak terlalu susah karena pulau dua merupakan daerah pesisir yang dekat dengan pusat kota, berikut jalur tempuh menuju lokasi :

Dengan kendaraan umum
1. Jakarta – Serang/Terminal Pakupatan (Bus jurusa
n Jakarta – Merak)
2. Serang – Terminal Pasar Rau (A
ngkot Rp 2500;) / ± 15 menit tanpa ngetem
3. Terminal
Pasar Rau – Sawah Luhur (Angkot ± Rp 5000;) ± 30 menit
4. Sawah Luhur – Pula
u Dua (Jalan kaki kisaran waktu ± 30 menit, motor atau sepeda)

Dengan kendaraan pribadi
Dari Jakarta keluar gerbang tol Serang Timur ambil arah kanan (Arah Banten Lama/Keresidenan Banten), sebelum jembatan ambil arah kanan menuju sawah luhur. Dari Serang menuju Sawah Luhur dapat ditempuh dengan waktu ± 30 menit.


KONDISI PULAU DUA
Dari Sawah Luhur menuju pintu rimba Pulau Dua dapat ditempuh dengan waktu ± 30 menit dengan berjalan
kaki namun bias lebih cepat dengan menggunakan sepeda atau motor bentuk jalan yang dilalui berupa pembatas tambak (galengan lah kalo dsawah mah…). Setelah sampai pintu rimba tepatnya gubuk terakhir yang jumpai kita akan disodorkan buku tamu beserta alat tulis dan sedikit senyuman selamat datang dari penjaga atau anak penjaga pulau tersebut.

Menara pemantauan sejajar dengan pintu rimba arah barat sekitar 5-10 menit ditempuh dengan jalan kaki kisaran tingginya hamper mencapai 6 meter, dua tahun sebelumnya ada menara dengan ketinggian ± 12 meter yang ditempuh dengan perjalanan ± 30 – 45 menit berjalan kaki dari pintu rimba beserta base camp lapuk yang tidak dgunakan lagi (takut roboh euy…) sekarangpun masih sering kami kunjungi untuk lokasi bermalam tim kami karena kita dapat menjumpai tanah lapang yang memudahkan aktivitas lainnya.

Perjalanan menuju base camp cukup menyenangkan karena kita dihadapi oleh tumbuhan pesisir, beberapa jenis reptil (biawak, kadal) yang melintas, burung, belalang dan yang tidak ketinggalan aroma khas pantai. Kontur jalan yang dilalui sangat variatif dari mulai tanah liat, lumpur, pasir, sesekali kita akan menemui gugusan karang.

Pemandangan laut, perahu nelayan, bagan tengah laut dapat kita nikmati bersamaan dengan deburan ombak ya meski pantainya tidak seperti laiknya objek wisata. Pada saat week end kita juga akan dihadapi oleh pemandangan tambahan, …….? Hehehehheehe ternyata pulau ini juga dijadikan lokasi memadu kasih para pasangan muda-mudi. Di tengah perjalanan kita juga akan melihat satu kuburan keramat dengan kafan menyelimuti nisannya, entah ini kuburan siapa???

Sesampainya di base camp Pohon tua dan bangunan rumah yang hamper roboh akan menyambut kita, disana kita dapat mendirikan tenda. Dari base camp tersebut baik menuju arah utara ataupun barat sekitar 1-3 menit akan kita temui pantai dengan hamparan karang-karang. Jika kita beruntung di pantai kita dapat menemui nelayan kerang hijau atau pun nelayan ikan yang menggunakan perahunya, kita tinggal berteriak bersamaan dengan itu lambaian tangan kita arahkan kepada nelayan tersebut sebagai sandi bahwa kita menginginkan hasil tangkapan mereka untuk dibakar dmalam harinya atau jika hobi dengan memancing jangan lupa bawa alat pancing ketika hendak menuju pulau ini. Sore hari diatas sebuah pohon yang menyerupai bangku panjang kita dapat menikmati matahari tenggelam wah manta blah pokoknya. Malam hari kita juga dapat membuat api unggun dengan menggunakan kayu, ranting yang telah jatuh. Hangatnya api unggun dapat sedikit menghilangkan udara dingin yang berasal dari hembusan angina laut serta serangan nyamuk yang luar biasa (ooow iya jangan lupa bawa lotion anti nyamuk, kelambu, raket nyamuk juga boleh).

JAGAWANA (Mad Sahi dan Konservasi Pulau Dua)

Jagawana berasal dari bahasa sangsekerta yang berarti penjaga (Bahasa Inggris, Ranger), bisa diartikan juga pengawal atau tentara yang berpatroli disebuah wilayah untuk menegakan hukum yang berlaku di Indonesia jagawana lebih familiar sebagai penjaga hutan sama halnya di Inggris dan Amerika diartikan sebaga pemelihara dan penjaga hutan negara, hutan lindung, taman. Abad 17-an jagawana berarti juga anggota militer/prajurit pemberontak yang ahli dalam penyergapan dan penyerangan.

Di Pulau Dua terdapat dua orang jagawana, mungkin karena keterbatasan dan hal lain yang berperan aktif melaksanakan tugasnya hanya satu orang bernama Mad Sahi Pria kelahiran 44 tahun yang lalu. Pria dengan tinggi 140 cm dengan tubuh kekarnya dia dikenal sebagai orang tergalak di pulau dua, karena sifat protektifnya terhadap pulau dua dari ancaman tangan-tangan jahil (pencuri telur dan penembak burung, pengambil kayu dll) tidak segan-segan dia menasehati, membentak sesekali hampir terjadi perkelahian dengan para pengunjung yang tertangkap mata melakukan hal yang dilarang tsb. Dengan sebuah golok yang dikaitkan dipinggangnya dia berangkat dari rumahnya menggunakan sepedah ontel tuanya namun kini sepeda gunung berwarna hijau silver (penghargaan dari walikota serang pada hari lingkungan hidup 2008) yang selalu menemaninya menuju pulau dua.

Sosok sederhana ini patut diacungi jempol karena ketekunannya dalam melestarikan dan menjada pulau dua membuatnya dikenal banyak orang hingga mancanegara terlebih oleh para ahli Bird Watcher, 29 tahun mengabdi salah satu aktivitasnya yang menonjol adalah melestarikan hutan bakau sebagai habitat burung air di pulau tersebut hingga saat ini. bukan hal yang mudah untuk mengembang biakan tanaman bakau sampai-sampai dia berkata "saya saja sudah lama membudidayakan tanaman bakau ini namun tidak banyak yang bertahan hingga saat ini, belajar dan terus belajar dari pengalaman untuk mendapatkan hasil terbaik" faktor alam (sifat abrasif ombak) memang mendominasi kegagalan penanaman bakau. Kegigihan seorang kakek dengan satu cucu ini menyerap perhatian banyak pihak yang peduli dengan konservasi lingkungan, pembangunan sebuah posko masuk berukuran 4x4 m dengan bale terbuat dari kayu pada 10 mei 2008 sumbangan dari sebuah perusahaan membuat senang bapak dengan tiga anak ini, karena sangat membantu dalam hal kenyamanan menjaga pulau ini tutur dia. Sebelum atau setelah berpatroli mengelilingi pulau dia membersihkan halaman posko dari sampah dengan harapan pengunjung dapat nyaman ketika berada dilokasi tersebut, Perlahan tapi pasti dia menata ruang pulau alhasil mata kamipun sedap untuk memandangnya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup kelurganya Pegawai Negeri sipil golongan II A (yang disandangnya setelah mendapatkan penghargaan kalpataru sebagai kader konservasi pada tahun 1983 yang sebelumnya menggantikan jagawana lama sebagai tenaga honorer selama 4 tahun) ini menggarap sepetak sawah saat panen menghasilkan satu ton beras "ya cukup lah untuk memenuhi pangan keluarga selama setahun" dia berkata sambil duduk menikmati secangkir kopi dalam sebuah gelas yang terbuat dari batok kelapa dan sebatang rokok kretek diapit oleh jarinya. Penghasilan tambahan pun iya dapatkan baik yang meminta jasanya untuk membantu aktivitas para pengunjung (Pembibitan bakau, penelitian burung dsb), mesikpun tidak banyak namun dengan kearifannya pria yang mendapatkan penghargaan satya lencana pada tahun 1995 ini mengatakan "ya lumayan untuk menabah gaji yang saya dapat dari pemda JABAR". Keinginannya menunaikan ibadah haji terlaksana pada tahun 1998 yang dibiayai oleh pemda JABAR, disela-sela waktu ia bertutur tentang perjalanan hidupnya lulusan sekolah rakyat Air Jeruk Ujung Kulon sesekali tegukan kopi dan hisapan rokok kretek menyelingi ceritanya, pembicaraan kami semakin terasa nyaman karena sepoi-sepoi angin laut teluk Banten.

Tidak lupa harapan mengenai pulau dua iya sampaikan pada kami antara lain (kami rangkum):
1. Warga sekitar dapat mengerti makna konservasi, karena hingga kini tidak banyak warga yang peduli dengan aset dunia ini.
2. Perhatian pemerintah daerah mesti ditingkatkan dari sisi konservasi dan kenyamanan mengingat pulau ini yang menjadi objek penelitian bertaraf internasional.
3. Surga burung (yang diucapkan oleh para ahli pengamat burung), mudah-mudahan dapat memicu semangat anak muda (khususnya Pemuda Banten) untuk berperan aktif dalam menjaga habitat dan kelangsungan hidup burung air yang bermukim dan transit dipulau ini. "kebanyakan yang melakukan studi dan penelitian tentang burung dan bakau masih didominasi oleh kaum muda diluar Banten" Tutur dia sebelum mengakhir pembicaraan dengan kami.


Referensi
www.wetlands.or.id
www.sinarharapan.co.id
Milton, R. and Agus Marhadi, 1985. The Birdlife of the Nature Reserve Pulau Dua.
Kukila 1985 (2). Indonesia ornithological Society, Jakarta
Inventarisasi Burung Di Pulau Dua
Dokumentasi Mahasiswa Penjelajah Alam Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (MAPALAUT), Banten
http://www.bplhdjabar.go.id/emplibrary/burungpulaudua.pdf

www.tokohindonesia.com

http://id.wikipedia.org/wiki/Jagawana


Sabtu, 09 Agustus 2008

Ciberang nan Eksotis

Sungai Ciberang secara geografis terletak di Kabupaten Lebak Propinsi Banten, sungai ini bersumber dari pegunungan Halimun. Selain sebagai pemenuh kebutuhan masyarakat sekitar sungai ini dimanfaatkan sebagai media olah raga arung jeram yang diresmikan oleh gubernur Banten pada tanggal 11 Desember 2007 , sepanjang suangi terdapat banyak pemandangan yang nyaman diterima oleh mata kita antara lain pepohonan yang alami tumbuh disekitar aliran sungai, persawahan milik masyarakat, pemukiman warga, bebatuan yang menghiasi sungai, tebing alam yang terkikis oleh derasnya aliran sungai, sesekali burung, kadal, biawak menyita perhatian mata kita sungguh karya cipta yang menakjubkan.

Akses menuju tempat wisata arung jeram sungai ciberang dapat ditempuh melalui beberapa rute, antara lain :
Lokasi ini dapat di akses dari beberapa arah :
1. Jakarta - Balaraja - Cikande Asem - Rangkas - Cipanas (jalan sempit sedikit ada lubang)
2. Jakarta - Bogor - Jasinga - Cipanas (jalan sempit berliku)
3. Jakarta - Serang - Petir - Rangkas - Cipanas (jalan sempit berlubang)
4. Jakarta - Serang - Pandeglang - Rangkas - Cipanas (lebar dan cukup mulus)

Jalur pengarungan yang diperuntukkan guna wisata kurang lebih 10 KM dapat ditempuh dengan waktu 2,5 - 3 jam pengarungan, untuk tahap selanjutnya (sering latihan) dapat melakukan pengarungan sampai dengan 14-18 KM pertimbangan tersebut diambil karena jalur pengarungan cukup menantang. Tingkatan jeram 2-3 hal ini dikemukakan oleh Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) mengacu pada Standard American White Water Association (AWA).

Perjalanan dari Serang - Petir - Rangkas - Cipanas kami tempuh dengan sebuah mobil carry (si biru) ber plat merah sang pemiliknya adalah UNTIRTA dimana kami bernaung di dalamnya. 28 mei 2008 tepatnya pukul 14.00 WIB kami masuk ke dalam si biru terhitung 11 orang sudah didalamnya. Untungnya pada saat itu kami menggunakan sopir pribadi MAPALAUT ya sesama anggota jadi cuma ngeluarin rokok aja....meski sedikit ugal-ugalan dalam perjalanan namun kami cukup menikmati terlebih ada yang menganggap ya itung-itung latihan hehehehehe...sekitar pukul 15.00 kami rehat di Rangkas masuk sebuah mini market dengan senyum manis yang dilontarkan oleh penjaga kasir.wati berseragam merah, pilah-pilih akhirnya selesai belanja kami melanjutkan perjalanan. Diperjalanan yang kami lewati banyak hal yang menyita mata kami antara lain perkebunan kelapa sawit, penggali fosil, panglong kayu, arena motor trial berlaga lembah, bukit-bukit wah pokoknya mantab lah. Jam 17.00 menunaikan shalat ashar di masjid pondok pesantren La Tanza baru kali itu gw liat pesantren diantara lembah....pasti dingin bgt kalo malem...akhirnya adzan magrib menyambut kami di base campnya FAJI Ciberang, secangkir teh manis hangat tersaji bersamaan dengan pisang goreng wow sajian khas pedesaan yang jarang sekali kami nikmati. Malam hari dilanjutkan dengan pihak pengelola mengenai pengarungan esok hari (bageur-bageur euy pengurusnya keren lah pokoknya). larutnya malam memaksa kami untuk memejamkan mata meski dingin merakuk kedalam tubuh melalui ujung jemari tangan dan kaki.

Mentari pagi menemani kami sarapan alakadarnya (kalo pengen enak mah drestoran celetu salah satu anggota tim). Olahraga pagi dimulai tepat jam 08.00 jogging beramai-ramai ditengah-tengah kampung dalam hati saya tertawa terbahak-bahak (wah kita kaya badut diliatin warga hehehehehehehe) satu jam berlalu akhirnya kami meregangkan otot-otot yang kaku di sebuah tempat penyimpanan peralatan pengarungan. Disana kami diberi pengetahuan oleh instruktur mengenai pengertian dasar, jenis peralatan, istilah-istilah yang dgunakan dalam pengarungan dan banyak lagi, selesai menerima materi kami mulai mengaplikasikannya. Masuk ruangan memilih jaket keselamatan (pelampung), helm, dayung lalu kami mengangkat perahu secara bersamaan karena kondisi perahu kempes akhirnya kami melakukan olahraga tambahan hehehehehehe ngompa maksudnya. Selesai ngompa kami gotong tuh perahu menuju tempat start pengarungan dibawah sebuah jembatan tua mungkin di bangun oleh Belanda. Nah sebelum memulai pengarungan kami diwajibkan melakukan simulasi terlempar dari perahu lalu teknik mendayung setelah semua tim memahami simulasi tersebut akhirnya saat yang dinanti tiba juga pengarungan dimulai......

Pengarungan dimulai dengan rasa kegembiraan, dengan pengetahuan yang kurang memadai dan pengalaman yang kurang sesekali kami dievaluasi oleh instruktur agar melakukan hal yang benar. Batu-batu kali menghiasi perjalanan kami bukan saja perahu tapi badan kami meliuk-liuk diatasnya satu merasakan ganasnya jeram di atas perahu karet merupakan hal pertama kali bagi kita, kata untuk hal ini mantab.... matahari tepat diatas ubun-ubun kami istirahat disela-sela istirahat kami ada salah satu skyper melakukan atraksi dengan menaiki bukit kecil tepat dibibir sungai lalu melewati jembatan yang melintasi sungai Ciberang dengan percaya dirinya dia meneriaki kami agar melihatny (teriakannya menyita perhatian kami) lalu dia menggantungkan diri dengan tambatan kawat baja pengaman jembatan tidak lama kemudian menceburkan diri...byu....r. Berenang ketepian dia lalu mengajak kami untuk melakukan hal yang sama, dengan emosi berlebih lalu kami mengikutinya melakukan atraksi tersebut hampir semua peserta melakukan hal yang sama. Istirahat usai kami melanjutkan pengarungan sampai pada sebuah lokasi dengan keadaan air yang tenang dan cukup dalam kami menceburkan diri satu persatu untuk melakukan simulasi menaiki perahu dari dalam air yang mesti diketahui karena bisa saja dalam pengarungan rafter terjatuh kedalam air jadi kemampuan tersebut harus dimiliki beberapa kali kami mencoba ternyata belum mendapatkan hasil sempurna setelah selesai kami melanjutkan simulasi selanjutnya, semua tim berdiri di bibir atas perahu lalu skyper mendayung dan memutar-mutar perahu dengan keseimbangan ala kadarnya kami semua terjatu ke dalam air hehehehehe sial neh dikerjain, kami fikir setelah itu pengarungan dilanjutkan ternyata ada satu hal lagi perahu kami di balikan walah-walah kena lagi kita..... Pengarungan dilanjutkan dengan keadaan fisik yang cukup melelahkan namun kami bermodalkan semangat terus mendayung dengan tujuan titik finish ditengah perjalanan perahu kami tertambat diantara bebatuan dengan semangat tim kami meloloskan diri senang rasanya ketika kemampuan tim menjadi sebuah prioritas utama, dengan aba-aba skyper kami diharuskan bersiap untuk menghadapi bendungan meski tidak terlalu tinggi namun rasa ngeri bercampur dengan riang kami lewati bendungan tersebut dengan teriakan yang lantang dengan harapan dapat menghilangkan rasa takut. Hahahahahahahahahahahaha akhirnya terlewati juga tantangan berat tadi, tidak lama kemudian kami melewati garis finish. Alhamdullilah perahu kami angkat kami menaiki sebuah tangga menuju pemukiman penduduk sesekali perahu kami nyangkut diantara rumah, pagar dan atap warga. sampai kita disebuah warung kami menikmati jajanan ala kampung (bala-bala, es kenyot, krupuk dll) meski kita makan banyak ternyata harganya masih bersahabat.

Perahu dikempiskan lalu dilipat dimasukan dalam mobil oooo iya jaket keselamatan dan helm juga kami masukan kedalam mobil sebagian tim duluan menuju basecamp menggunakan sibiru dan mobil feroza operasional FAJI Banten. Disela-sela waktu saya menunggu saya memesan secangkir kopi yang perbandingannya dengan gula (1:1/4) memang terasa pahit tapi bisa menghilangkan kepenatan sulut sebatang rokok marlboro merah hisapan pertama begitu dalam lalu keluarkan perlahan waaaaaaaaaah...... nikmatnya. Secangkir kopi telah dinikmati akhirnya mobil yang menjemput kami tiba berdesakan kami didalamnya namun rasa senang menutupi itu semua didalamnya kami sambil berbagi cerita tentang pengalaman baru yang saya lakukan. Tidak lama kami sampai di basecamp.

Jikalau ada kawan saya bertanya tentang arung jeram disungai Ciberang kata yang pertama di ucapkan adalah : w (we)... a ('a)... h ('ah)

sumber
http://www.faji.org/
Laporan Perjalanana MAPALAUT