Pulau Dua merupakan kawasan hutan dengan gugusan mangrove, karena alamnya sangat potensial maka didaulat sebagai cagar alam berdasarkan GB.No.21 Stbl.49, 30-7-1937. Untuk keperluan pengamanan Pemerintah Daerah Kabupaten Serang mengeluarkan Surat Keputusan tahun 1977 yang mendukung pengukuhan Pulau Dua sebagai kawasan Cagar Alam. Pada tahun 1978 luasnya sekitar 8 Hektar (Ha) dan jarak antara pulau jawa dan daratan pulau dipisahkan oleh selat yang panjangnya sekitar 500 meter. Namun lambat laut selat tersebut banyak tertimbun tanah yang terbentuk akibat proses pendangkalan sungai Cibanten, pada lokasi tersebut ditumbuhi oleh jenis tanaman
Avicenia marina tempat para burung bersarang. Akhirnya pada tanggal 26 Desember 1984 Menteri Kehutanan pada saat itu Soejarwo (Kabinet Pembangunan IV) mengeluarkan Surat Keputusan Nomor : 253/KptsII/1984 berkenaan dengan perlindungan terhadap burung dan habitatnya serta perluasan lokasi yang pada awalnya hanya sekitar 8 Ha menjadi 30 Ha.
Secara administratif Cagar Alam Pulau Dua masuk kedalam desa sawahluhur, kecamatan Kasemen, ka
bupaten Serang, Propinsi Banten. Dengan koordinat geografis 106° 11' 38" - 106°13' 14 " Bujur Timur dan 6° 11' 5" - 6°12' 5 " Lintang Selatan. Dikelola oleh BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Kabupaten Serang. Tipe iklim kategori B dengan curah hujan rata-rata 250 mm/tahun dan suhu berkisan antara 26 - 32°C, kisaran ketinggian antara 1-3 meter diatas permukaan laut (mdpl).
Ekosistem dan vegetasi cagar alam ini termasuk hutan dataran rendah yang ditumbuhi beberapa jenis tanaman pantai antara lain seperti :
1. Kepuh (Sterculia foetida)
2. Ketapang (Terminallia catappa)
3. Apiapi (Avicenia sp)
4. Bakau (Rhizopora sp)
Untuk menuju lokasi tidak terlalu susah karena pulau dua merupakan daerah pesisir yang dekat dengan pusat kota, berikut jalur tempuh menuju lokasi :
Dengan kendaraan umum
1. Jakarta – Serang/Terminal Pakupatan (Bus jurusan Jakarta – Merak)
2. Serang – Terminal Pasar Rau (Angkot Rp 2500;) / ± 15 menit tanpa ngetem
3. Terminal Pasar Rau – Sawah Luhur (Angkot ± Rp 5000;) ± 30 menit
4. Sawah Luhur – Pulau Dua (Jalan kaki kisaran waktu ± 30 menit, motor atau sepeda)
Dengan kendaraan pribadi
Dari Jakarta keluar gerbang tol Serang Timur ambil arah kanan (Arah Banten Lama/Keresidenan Banten), sebelum jembatan ambil arah kanan menuju sawah luhur. Dari Serang menuju Sawah Luhur dapat ditempuh dengan waktu ± 30 menit.
KONDISI PULAU DUA
Dari Sawah Luhur menuju pintu rimba Pulau Dua dapat ditempuh dengan waktu ± 30 menit dengan berjalan kaki namun bias lebih cepat dengan menggunakan
sepeda atau motor bentuk jalan yang dilalui berupa pembatas tambak (galengan lah kalo dsawah mah…). Setelah sampai pintu rimba tepatnya gubuk terakhir yang jumpai kita akan disodorkan buku tamu beserta alat tulis dan sedikit senyuman selamat datang dari penjaga atau anak penjaga pulau tersebut.
Menara pemantauan sejajar dengan pintu rimba arah barat sekitar
5-10 menit ditempuh dengan jalan kaki kisaran tingginya hamper mencapai 6 meter, dua tahun sebelumnya ada menara dengan ketinggian ± 12 meter yang ditempuh dengan perjalanan ± 30 – 45 menit berjalan kaki dari pintu rimba beserta base camp lapuk yang tidak dgunakan lagi (takut roboh euy…) sekarangpun masih sering kami kunjungi untuk lokasi bermalam tim kami karena kita dapat menjumpai tanah lapang yang memudahkan aktivitas lainnya.
Perjalanan menuju base camp cukup menyenangkan karena kita dihadapi oleh tumbuhan pesisir, beberapa jenis reptil (biawak, kadal) yang melintas, burung, belalang dan yang tidak ketinggalan
aroma khas pantai. Kontur jalan yang dilalui sangat variatif dari mulai tanah liat, lumpur, pasir, sesekali kita akan menemui gugusan karang.
Pemandangan laut, perahu nelayan, bagan tengah laut dapat kita nikmati bersamaan dengan deburan ombak ya meski pantainya tidak seperti laiknya objek wisata. Pada saat week end kita juga akan dihadapi oleh pemandangan tambahan, …….? Hehehehheehe ternyata pulau ini juga dijadikan lokasi memadu kasih para pasangan muda-mudi. Di tengah perjalanan kita juga akan melihat satu kuburan keramat dengan kafan menyelimuti nisannya, entah ini kuburan siapa???
Sesampainya di base camp Pohon tua dan bangunan rumah yang hamper roboh akan m
enyambut kita, disana kita dapat mendirikan tenda. Dari base camp tersebut baik menuju arah utara ataupun barat sekitar 1-3 menit akan kita temui pantai dengan hamparan karang-karang. Jika kita beruntung di pantai kita dapat menemui nelayan kerang hijau atau pun nelayan ikan yang menggunakan perahunya, kita tinggal berteriak bersamaan dengan itu lambaian tangan kita arahkan kepada nelayan tersebut sebagai sandi bahwa kita menginginkan hasil tangkapan mereka untuk dibakar dmalam harinya atau jika hobi dengan memancing jangan lupa bawa alat pancing ketika hendak menuju pulau ini. Sore hari diatas sebuah pohon yang menyerupai bangku panjang kita dapat menikmati matahari tenggelam wah manta blah pokoknya. Malam hari kita juga dapat membuat api unggun dengan menggunakan kayu, ranting yang telah jatuh. Hangatnya api unggun dapat sedikit menghilangkan udara dingin yang berasal dari hembusan angina laut serta serangan nyamuk yang luar biasa (ooow iya jangan lupa bawa lotion anti nyamuk, kelambu, raket nyamuk juga boleh).
JAGAWANA (Mad Sahi dan Konservasi Pulau Dua)
Jagawana berasal dari bahasa sangsekerta yang berarti penjaga (Bahasa Inggris,
Ranger), bisa

diartikan juga pengawal atau tentara yang berpatroli disebuah wilayah untuk menegakan hukum yang berlaku di Indonesia jagawana lebih familiar sebagai penjaga hutan sama halnya di Inggris dan Amerika diartikan sebaga pemelihara dan penjaga hutan negara, hutan lindung, taman. Abad 17-an jagawana berarti juga anggota militer/prajurit pemberontak yang ahli dalam penyergapan dan penyerangan.
Di Pulau Dua terdapat dua orang jagawana, mungkin karena keterbatasan dan hal lain yang berperan aktif melaksanakan tugasnya hanya satu orang bernama Mad Sahi Pria kelahiran 44 tahun yang lalu. Pria dengan tinggi
140 cm dengan tubuh kekarnya dia dikenal sebagai orang tergalak di pulau dua, karena sifat protektifnya terhadap pulau dua dari ancaman tangan-tangan jahil (pencuri telur dan penembak burung, pengambil kayu dll) tidak segan-segan dia menasehati, membentak sesekali hampir terjadi perkelahian dengan para pengunjung yang tertangkap mata melakukan hal yang dilarang tsb. Dengan sebuah golok yang dikaitkan dipinggangnya dia berangkat dari rumahnya menggunakan sepedah ontel tuanya namun kini sepeda gunung berwarna hijau silver (penghargaan dari walikota serang pada hari lingkungan hidup 2008) yang selalu menemaninya menuju pulau dua.
Sosok sederhana ini patut diacungi jempol karena ketekunannya dalam melestarikan dan menjada pulau dua membuatnya dikenal banyak orang hingga mancanegara terlebih oleh para ahli
Bird Watcher, 29 tahun mengabdi salah satu aktivitasnya yang menonjol adalah melestarikan hutan bakau sebagai habitat burung air di pulau tersebut hingga saat ini. bukan hal yang mudah untuk mengembang biakan tanaman bakau sampai-sampai dia berkata
"saya saja sudah lama membudidayakan tanaman bakau ini namun tidak banyak yang bertahan hingga saat ini, belajar dan terus belajar dari pengalaman untuk mendapatkan hasil terbaik" faktor alam (sifat abrasif ombak) memang mendominasi kegagalan penanaman bakau. Kegigihan seorang kakek dengan satu cucu ini menyerap perhatian banyak pihak yang peduli dengan konservasi lingkungan, pembangunan sebuah posko masuk berukuran 4x4 m dengan bale terbuat dari kayu pada 10 mei 2008 sumbangan dari sebuah perusahaan membuat senang bapak dengan tiga anak ini, karena sangat membantu dalam hal kenyamanan menjaga pulau ini tutur dia. Sebelum atau setelah berpatroli mengelilingi pulau dia membersihkan halaman posko dari sampah dengan harapan pengunjung dapat nyaman ketika berada dilokasi tersebut, Perlahan tapi pasti dia menata ruang pulau alhasil mata kamipun sedap untuk memandangnya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup kelurganya Pegawai Negeri sipil golongan II A (yang disandangnya setelah mendapatkan penghargaan kalpataru sebagai kader konservasi pada tahun 1983 yang sebelumnya menggantikan jagawana lama sebagai tenaga honorer selama 4 tahun) ini menggarap sepetak sawah saat panen menghasilkan satu ton beras
"ya cukup lah untuk memenuhi pangan keluarga selama setahun" dia berkata sambil duduk menikmati secangkir kopi dalam sebuah gelas yang terbuat dari batok kelapa dan sebatang rokok kretek diapit oleh jarinya. Penghasilan tambahan pun iya dapatkan baik yang meminta jasanya untuk membantu aktivitas para pengunjung (Pembibitan bakau, penelitian burung dsb), mesikpun tidak banyak namun dengan kearifannya pria yang mendapatkan penghargaan satya lencana pada tahun 1995 ini mengatakan
"ya lumayan untuk menabah gaji yang saya dapat dari pemda JABAR". Keinginannya menunaikan ibadah haji terlaksana pada tahun 1998 yang dibiayai oleh pemda JABAR, disela-sela waktu ia bertutur tentang perjalanan hidupnya lulusan sekolah rakyat Air Jeruk Ujung Kulon sesekali tegukan kopi dan hisapan rokok kretek menyelingi ceritanya, pembicaraan kami semakin terasa nyaman karena sepoi-sepoi angin laut teluk Banten.
Tidak lupa harapan mengenai pulau dua iya sampaikan pada kami antara lain (kami rangkum):
1. Warga sekitar dapat mengerti makna konservasi, karena hingga kini tidak banyak warga yang peduli dengan aset dunia ini.
2. Perhatian pemerintah daerah mesti ditingkatkan dari sisi konservasi dan kenyamanan mengingat pulau ini yang menjadi objek penelitian bertaraf internasional.
3. Surga burung (yang diucapkan oleh para ahli pengamat burung), mudah-mudahan dapat memicu semangat anak muda (khususnya Pemuda Banten) untuk berperan aktif dalam menjaga habitat dan kelangsungan hidup burung air yang bermukim dan transit dipulau ini. "kebanyakan yang melakukan studi dan penelitian tentang burung dan bakau masih didominasi oleh kaum muda diluar Banten" Tutur dia sebelum mengakhir pembicaraan dengan kami.
Referensi
www.wetlands.or.id
www.sinarharapan.co.id
Milton, R. and Agus Marhadi, 1985. The Birdlife of the Nature Reserve Pulau Dua.
Kukila 1985 (2). Indonesia ornithological Society, Jakarta
Inventarisasi Burung Di Pulau Dua
Dokumentasi Mahasiswa Penjelajah Alam Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (MAPALAUT), Banten
http://www.bplhdjabar.go.id/emplibrary/burungpulaudua.pdf
www.tokohindonesia.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Jagawana